Pasar Dalam Negri Menjadi Andalan Chitose

Pasar Dalam Negri Menjadi Andalan Chitose

Produsen mebel PT Chitose Internasional Tbk optimistis menggenjot penjualan hingga akhir tahun ini. Dua segmen bisnis, yakni penjualan reguler dan penjualan proyek, masih menjadi unggulan Chitose dalam menumbuhkan bisnisnya. Chitose memiliki kapasitas terpasang pabrik sebesar 1,5 juta unit per tahun dengan utilitas 80%-90%. Hingga akhir tahun, pendorong kami masih di bisnis reguler, juga support dari penjualan proyek, ujar Helina Widayani, Sekretaris Perusahaan PT Chitose Internasional Tbk.

Untuk penjualan di tingkat ritel atau reguler, manajemen Chitose akan memaksimalkan toko-toko yang sudah ada. Sampai tutup tahun ini, emiten berkode saham CINT di Bursa Efek Indonesia itu belum berencana menambah outlet baru. Sebab tiga flagship shop yang kami dirikan terhitung masih baru. Jadi akan kami fokuskan dulu, ungkap Helina. Chitose pada tahun ini telah merampungkan flagship shop di Surabaya yang memakan dana investasi Rp 30 miliar.

Adapun flagship shop lainnya berada di Jakarta dan Cimahi, Jawa Barat. Mengenai peluang pasar furnitur saat ini, menurut Helina, tahun politik yang dimulai pada 2018 menjadi perhatian para pengusaha mebel. Sebab belanjanya lebih ke belanja politik dan mungkin investor juga masih menunggu (wait dan see). Buat Chitose hal ini bisa merupakan tantangan dan peluang juga, kata Helina.

INT juga menghadapi tantangan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Ameria Serikat. Kondisi ini bakal berimbas pada kenaikan harga bahan baku. Meski tak mengimpor bahan baku, pabrikan CINT membeli beberapa material seperti chemical khusus dengan mata uang dollar AS. Untuk itu, CINT menempuh dua cara, yakni berkoordinasi dengan vendor penyedia bahan baku dan menggenjot ekspor. Kami mengefektifkan pembelian untuk yang benarbenar menjadi topline. Kami juga mendorong ekspor,urai Helina.

Namun manajemen tidak merinci berapa besar porsi pembelian material yang memakai dollar AS. Satu hal yang pasti, mengacu laporan keuangan semester I-2018, beban produksi CINT naik 23% year-on-year (yoy) menjadi Rp 124 miliar. Mayoritas penjualan Chitose di paruh pertama tahun ini ke pasar domestik, yakni mencapai 94,9% dari total pendapatan bersih. Penjualan lokal naik 13% (yoy) menjadi Rp 151 miliar.