Strategi Pemerintah agar Swasembada Pangan

Untuk mengejar tambahan produksi satu juta ton tahun ini, pemerintah berupaya meningkat kan luas tanam dengan memanfaat kan lahan suboptimal, yaitu lahan kering seluas 750 ribu ha dan lahan rawa 500 ribu ha. Tujuannya mengompensasi sebagian alih fungsi lahan perta – ni an pangan produktif yang belum terimbangi pembukaan lahan baru. Ismail Wahab, Kepala Pusat Penelitian dan Pe – ngembangan Tanaman Pangan, Balitbangtan Ke – menterian Pertanian (saat ini menjabat Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementan), mengonfirmasi, pemerintah memang memanfaatkan lahan potensial lain yang dinilai produktif. Tentu saja paket teknologi yang cocok dengan lahan tersebut ikut diperkenalkan, terma – suk di dalamnya sistem tanam jajar legowo dengan berbagai variannya. Yang paling baru, Puslitbangtan memperkenalkan sistem tanam Jajar Legowo (Jarwo) Kotak dan Larikan Gogo (Largo) Super untuk meningkatkan hasil panen di lahan biasa dan lahan kering (tadah hujan). Hasilnya cukup menjanjikan.

Produktivitas Naik dengan Jarwo Kotak Perhatian khusus terus diberikan untuk mening kat – kan hasil dengan menerapkan per – baikan teknologi dan cara budidaya. Selain meningkatkan populasi tanam an, jelas Is – mail, sistem tanam jarwo kotak dapat meningkatkan po – pulasi tanaman dan cukup efektif dalam me ngu – rangi serangan ha – ma dan penyakit. Semakin tinggi po – pulasi tanaman, jumlah malai akan semakin banyak sehingga peluang hasil panen naik sangat tinggi. Lebih lanjut, mantan Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) itu menerangkan, sistem tanam jarwo mengosongkan satu baris tanaman di setiap dua atau lebih barisan, kemudian merapatkan dalam barisan tanaman. Bentuk sistem jarwo kotak menyerupai bujur sangkar. “Dikenal dengan legowo kotak 2:1. Satu baris kosong diselingi oleh empat baris tanaman padi sepanjang 4 m. Luas ubinan (12 x 0,25 m) x 4 m = 12 m² atau setara dengan 256 rumputan,” paparnya detail. Penggunaan sistem jarwo harus sesuai dengan kondisi di lapangan. Biasanya, pada wilayah pema – tang sawah, hasil yang dicapai lebih bagus dan lebih banyak. Seperti sistem tanam yang diterapkan di pinggir galengan dengan ukuran rata-rata 40 cm.

Tanaman tersebut seolah-olah terletak di antara galengan, yang membuat sinar matahari mudah masuk. Ismail mengatakan, rata-rata produk – tivitas tanaman di pematang sawah lebih tinggi dibanding – kan yang ada di tengah. Benefit dari Jarwo Tujuan penerapan sistem ta – nam Jarwo Kotak untuk me – ning katkan populasi tanaman per satuan luas dan memper – mudah dalam pemeliharaan tanaman. Aspek keuntung annya, yaitu jumlah populasi yang mening kat, perawatan lebih mudah, dan menekan populasi hama. Nilai plus lainnya, biaya pemupukan lebih he mat, kualitas dan kuantitas produksi gabah me ningkat. Harapannya, imbuh Ismail, jumlah produksi gabah meningkat sekitar 20%-30% ketimbang sistem konvensional. “Baris kosong jarwo kotak memper – mu dah perawatan.

Proses pemupukan, penyem – protan dan pengontrolan lebih terkonsentrasi tanpa mengganggu tanaman. Selain itu, lahan pertanam – an relatif terbuka sehingga serangan hama seperti tikus dan kelembapan yang membuat penyakit ber – kem bang bisa ditekan,” ulas lulusan S2 Agrokli – matologi IPB Bogor ini. Dampak positif tersebut diamini Beni Bastian. Petani padi dari Kelompok Tani Ikhtiar 1 Jatiragas, Jatisari, Karawang, Jabar, ini telah menerapkan sistem jarwo kotak selama dua musim tanam. Ia mem buk – tikan, sistem Jar wo Kotak lebih ung gul diban ding – kan konvensional. Hal ini bisa dilihat dari pe nanganan ha – ma yang lebih efisien dan isi anakan lebih merata. Beni mengaku, ha – sil produksi cara ta – nam kon vensional hanya 4 ton gabah kering panen (GKP) dari 7.000 m2 lahan yang dikelolanya. Dengan jarwo kotak, ia memperoleh 6 ton GKP di lahan yang sama. Ukuran satu jarwo dapat dibagi men jadi 5 hingga 8 kotak. “Jarwo kotak lebih me ngun tungkan daripada yang biasanya.

Mungkin petani lain belum mencoba karena masih ragu. Sebab merasa banyak lahan yang terbuang atau tidak terpakai,” tuturnya. Melihat Potensi Largo Super Selain sistem tanam Jarwo Kotak, Badan Pene -litian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) juga mengembangkan sistem tanam di lahan kering, seperti Largo Super. Ismail mengung kap – kan, largo merupakan terobosan teknologi budi – da ya padi gogo di bawah larikan tanaman perke – bunan. Sebelumnya, sistem tanam largo telah di – ujicoba di 100 ha lahan kering di Kec. Puring, Kab. Kebumen, Jawa Tengah. Di lokasi tersebut, biasanya petani menanam padi Ciherang dengan hasil pa – nen rerata 4 ton/ha. Dengan largo super, hasil pa – nen berkisar 7 ton/ha. Agus W. Anggara, Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, Puslitbang Ta – nam an Pangan, Kementan, menambahkan, saat ini Largo Super tengah diuji coba pada lahan di bawah tegakan yang naungan sinar mataharinya mencapai 40%. “